Kamis, 30 Juli 2009

Khusyu

Khusyu




Hampir semua umat beragama
mencari atau berlomba-lomba mencari kekhusyuan dalam
ibadahnya, bahkan bila mungkin juga khusyu dalam
kehidupannya,
namun apa dan dimana
serta bagaimanakah khusyu itu sebenarnya, banyak orang
berusaha menggenjot konsentrasi dalam ibadahnya, ada
juga yang berusaha menyatu dengan alam agar
mendapatkan apa yang dinamakan khusyu tersebut, namun
kenyataannya
apa yang terjadi, mengapa sang khusyu
tiada kunjung tiba
, sehingga orang akhirnya ada yang merasa
frustasi karena tidak pernah berhasil mencapainya,
tentu saja akibat dari rasa frustasi ini akan sulit
diperkirakan akibatnya.





Benarkah hingga sedemikian sulitnya untuk
mendapatkan apa yang dinamakan khusyu tersebut?, ataukah disebabkan
oleh ketidak tahuan bahwa sebenarnya khusyu adalah
hadiah
, sehingga tidak akan didapatkan dengan cara
memaksakan
, melainkan harus ditunggu
kedatangannya dengan sabar, syukur, berserah
diri
serta tertib.



Jika khusyu adalah hadiah, mengapa ada sebagian orang yang
menggenjot konsentrasi dengan cara-cara shalat panjang
ataupun dengan berdzikir panjang ternyata dapat juga
mencapai khusyu
, walaupun dengan pengorbanan yang
besar
baik itu dari segi waktu maupun
tenaga
, sekiranya untuk mendapatkan khusyu haruslah
sedemikian besar pengorbanannya, tentu akan sulitlah bagi
orang-orang biasa
yang mempunyai kesibukan
keseharian yang cukup banyak, sedangkan khusyu itu
sendiri adalah hak bagi semua orang.



Bagi mereka yang berkeluangan waktu
dan tenaga
, mereka dapat melakukan pengkonsentrasian
dengan melakukan shalat taupun dzikir panjang,
sehingga dengan terkurasnya tenaga hingga habis maka
tanpa terasa mereka telah bersih diri, sabar
serta berserah diri, sehingga khusyu bisa didapatkan
walaupun mereka hanya mendapatkan khusyu ibadah dan
bukan khusyu kehidupan.



Sedangkan mereka yang berusaha
menyatu dengan alam
, mereka merasakan mendapatkan
ketenangan jiwa
yang mereka anggap kekhusyuan
walaupun sebenarnya adalah bukan, semua itu
dikarenakan menyatu dengan alam adalah menyatukan jiwa
dengan bumi, ataupun sejauh-jauhnya menyatukan jiwa
dengan alam semesta, yang kedua-duanya masih termasuk
hitungan dunia, sedangkan khusyu kaitannya adalah
dengan akhirat, kesalahan-kesalahan tersebut memang umum terjadi,
tentu saja penyebabnya adalah kesulitan dalam membedakan yang mana
mata bathin dengan yang mana mata terbuka hijab
ghaib
, mata terbuka hijab ghaib adalah mata yang dapat
melihat mahluk ghaib, tentu saja yang terlihat
bukanlah
yang Maha Ghaib, ataupun
akhirat
yang jauh diluar alam semesta, sedangkan mata bathin
tentu saja tidak melihat melalui kedua matanya itu, karena pada saat
mata bathin terbuka, semua panca indera tetap
berfungsi seperti biasanya
dan tidaklah seperti orang yang
kehilangan kesadarannya.



Sekarang pertanyaannya adalah, jadi
dapatkah
dan atau  bagaimanakah kita
sebagai orang-orang biasa saja dapat mencapai apa yang
dinamakan khusyu beribadah, bahkan khusyu dalam
kehidupan
, jawabannya tentu saja dapat,
sedangkan masalah bagaimananya, kita harus menelaah
lebih dahulu dasar-dasar pendukung pemberian hadiah
khusyu itu sendiri, pada dasarnya islam adalah pola hidup
yang harus di dukung oleh kesadaran yang
setinggi-tingginya, oleh karena itulah maka umat islam diwajibkan
melaksanakan shalat lima waktu sebagai pembentukan
pola beribadah
, yang harus dilakukan dengan kesadaran
sepenuhnya, sehingga sangat tidak disarankan kita shalat sambil
menutup mata
, bahkan pergerakannya pun haruslah dilakukan
dengan setertib-tertibnya agar lisan maupun pergerakan
shalat itu senantiasa tetap terjaga niat, arti
serta tujuannya, tidak menjadi susut dimakan
lalai
karena sudah terbiasa atau begitu rutinnya, karena
segala sesuatu perbuatan manusia itu, yang pertama-tama di lihat
adalah niatnya, seperti yang sudah umum kita lihat
dalam keseharian, bagaimana salam yang begitu sering
di ucapkan menjadi berubah fungsi dan artinya menjadi
say halo saja, padahal saling memberi salam itu
sebenarnya adalah saling mendo'a kan, sehingga niat bersalam itu
niat mendo'akan orang, tujuannya adalah agar orang yang dido'akan
tersebut selamat dunia akherat, mendapat rahmat serta berkah dari
Allah, hukumnya bagi orang yang mendo'akan akan mendapat yang
sama
, tanpa mengurangi sedikitpun dari orang yang
dido'akannya, adapun dalam kehidupan keseharian kita di ajarkan
untuk membaca Basmallah setiap kali hendak melakukan
sesuatu, serta do'a-do'a harian yang dapat menjadi
pagar kehidupan
kita, asalkan semuanya itu dilakukan
dengan selalu menyadari sepenuhnya akan niat, maksud
serta tujuan setiap segala sesuatu yang kita lakukan.



Oleh karena itu, dalam melaksanakan shalat
usahakanlah senantiasa melaksanakannya penuh dengan kesadaran
serta ketertiban
, tertib dalam setiap gerakan serta
lisan
, tidak kehilangan niat, maksud, tujuan serta
melakukannya hanya karena Allah, demikian pula dalam
melaksanakan kehidupan keseharian kita, lakukanlah semua
karena Allah
serta jelas niat, maksud, tujuannya,
jadikanlah
segala sesuatu dalam kehidupan kita menjadikan
kita mengingat Allah, mengejar pahala
karena di suruh Allah melalui rosulnya, menghindari
dosa
karena dilarang Allah melalui rosulnya,
berdo'a meminta kepada Allah yang maha
kaya serta maha pengasih lagi penyayang kata rosulnya,
Basmallah
menempatkan Allah menemani serta mengawasi
kita begitulah yang disampaikan rosul Allah tentang keseharian,
ingatlah bahwa mengingat Allah dan rosulnya
akan senantiasa memperkuat Syahadat kita, sedangkan
pola hidup islami
akan membuat kita otomatis
berdzikir mengingat Allah
pada saat berdiri, duduk dan
tidur
.



Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa
dengan melakukan ibadah yang penuh dengan kesadaran dan
ketertiban
, ditambah hidup dengan pola islami,
tawadhu, sabar serta pandai
bersyukur
dan senantiasa berprasangka baik pada Allah,
istiqomah dalam menjalankan semua itu, InsyaAllah hadiah
khusyu dalam beribadah maupun khusyu dalam
keseharian
yang didambakan akan kita didapatkan,
aamiin.



Ciri-ciri khusyu, bila kita mendapatkannya adalah
terbukanya mata bathin
kita, yang dapat dirasakan sebagai
rasa haru
yang sangat, apabila kita sedang
mengingat Allah, akhirat, surga,
Rasulullah, dosa-dosa yang telah lalu
serta lain-lain hal yang berkaitan dengan ruhani kita,
rasa haru tersebut membuat kita merasa hati tergores rindu,
menetes airmata, banjir airmata bahkan bisa sampai menangis
tersedu-sedu
.




Sebagai catatan tambahan, dalam keseharian kita di jalanan baik
dalam berkendaraan maupun berjalan kaki, seringkali tanpa
disadari
kita menghancurkan pola hidup islami kita dengan
menghinakan
diri menjadi preman bahkan
menjadi perampok, yang merampas atau merampok
hak orang lain
dengan memotong, memepet, mengambil jalan
orang lain, menghalangi, menyebrang dengan berlambat-lambat, saling
memaki atau mengumpat serta lain-lain perangai tidak terpuji
yang kita lakukan, perlu kita sadari bahwa semua orang ingin cepat
sampai ke tujuan dengan tenang,
tentram
dan aman di jalan, menjalin dan
menjaga silaturahmi sangatlah di sarankan bagi orang
islam.




-=*=-



bmhaj

Besar manakah antara Hati atau Jiwa






Banyak orang berpendapat, hati
yang berada di dalam dada adalah jantung, atau paling
tidak sebesar jantung, atau yang didalam ulu hati
berarti sebesar lever, sedangkan jiwa
adalah otak atau pula fikir, fikiran
atau otak kita dapat merekam lingkungan dari seluruh
panca indera kita, setiap saat, sepanjang kita
hidup
, betapa luas atau besarnya daya simpan otak
kita, yang dapat di asumsikan juga dengan besar atau luasnya
jiwa
, namun ada peribahasa dalam nya hati
lebih dalam dari lautan, walaupun tentunya ada
hati besar
dan juga ada hati kecil, jadi
pertanyaannya adalah besar manakah antara hati atau jiwa?.







Hmmm... ini kelihatan rumit
permasalahannya, harus mualai dari mana agar menjadi lebih mudah
untuk mengamati serta mencermatinya, kemungkinan kita harus
memulainya dari tubuh kita sebagai kendaraan
kita selama mengarungi dunia ini dengan bekal usia
yang tidak ada yang tahu berapa lama diberikan oleh Allah kepada
kita, yang InsyaAllah cukup untuk mengumpulkan ilmu yang
bermanfaat
, juga pengalaman kehidupan yang penuh
hikmah
serta mendapatkan serta mendapatkan
keyakinan yang hak
, sehingga dapat mencapai pengenalan
yang dalam
kepada Allah, Dzat Ahad yang Maha Suci lagi Maha
Segala yang Baik, aamiin.




Tubuh, berasal dari segumpal daging,
yang pada usia kandungan empat bulan Allah tiupkan padanya ruh,
sehingga bernyawalah tubuh tersebut, bersamaan dengan
nyawa dan ruh, tumbuhlah jiwa serta tumbuh pula
raganya, selanjutnya, bersamaan dengan terlahirnya tubuh ke dunia
maka kelima panca indera mulai bekerja untuk merekam
atau mengingat suasana di sekitarnya, saat itu syahwat perut
pun mulai beraksi sebagai naluri bertahan hidup, pada
saat otak mulai terisi maka mulailah sang jiwa
belajar ilmu
awal kehidupan, ada rasa lapar dari syahwat
perut, rasa nyaman kehangatan bundanya serta rasa-rasa lainnya yang
dilaporkan oleh inderanya, semenjak itulah jiwa belajar
terus-menerus dari segala yang dilihat, didengar,
dicium, dirasa dan lain sebagainya, pada
usia balita hingga remaja jiwa belajar pula dengan meniru
orang tuanya, juga kehidupan lingkungan di sekitarnya serta mulai
mencari kesimpulan-kesimpulan dari pelajaran yang
didapatkannya, pada masa remaja tersebut syahwat birahi
mulai bekerja sebagai naluri untuk berkembang biak atau berketurunan,
setelah memasuki masa dewasa dan seterusnya, jiwa
terus belajar dan menyimpulkan.




Nah... dengan mengamati proses kehidupan
tubuh serta jiwa, pada saat tubuh terlahir kedunia
fana ini mulailah jiwa belajar juga mulai tumbuh pula
rasa dalam hati sebagai manifestasi dari
kesimpulan ilmu
yang didapatkannya, kiranya inilah yang
dinamakan hati besar, atau bisa juga kita sebut
perasaan
.




Ternyata... hati besar
adalah perasaan, sedangkan jiwa adalah
fikiran kita, atau bisa juga dibilang jiwa
adalah kita, ya... kita yang sedang berfikir inilah
jiwa...




Sekarang tinggalah hati kecil yang harus
kita cari keberadaanya, kapan dan dimana dia muncul?,
hmmm... lagi... ternyata hati kecil telah ada lebih dahulu
dari jiwa dan perasaan kita, dialah
ruh
yang pada masa usia kandungan empat bulan
ditiupkan
oleh Allah sebagai pembangkit nyawa
serta penumbuh jiwa, lalu apa sajakah fungsi
dari hati kecil ini?, kiranya hati kecil sebagai ruh
adalah pengikat nyawa, jiwa dan perasaan pada tubuh,
sedangkan hati kecil sebagai cahaya naluri akhirati
yang sering di umpamakan sebagai minyak zaitun yang
tidak ada di timur dan tidak pula ada di
barat
, yang seakan-akan menyala dengan sendirinya
tanpa tersentuh oleh api sekalipun, atau biasa di
juluki pula lentera jiwa atau penerang bagi jiwa
atau jendela hati atau pula mata bathin,
yang bila kita rawat dengan baik akan selalu
berkicau ke dalam hati
kita, yang hanya dapat berkata
benar atau salah, ini benar atau ini salah, itu benar atau itu salah,
harus begini atau harus begitu, tidak boleh begini atau tidak boleh
begitu
yang sedemikian kakunya tanpa ada kata tapi
atau tapi kan
, karena kalau sudah ada kata
tapi ataupun tapi kan, berarti itu hati besar yang
berbicara.




Jika hati kecil itu adalah benda
ataupun dzat akhirati, maka kita akan mencoba untuk
membandingkan
dunia dan akhirat atau bila perlu kita
membandingkan alam semesta dengan akhirat,
kita ketahui bahwa bumi atau dunia dibandingkan dengan
akhirat bagaikan setetes air dengan
lautan
, sedangkan alam semesta hanyalah selebar kaki
kursi Allah ayang Maha Besar, jadi sudah barang tentu akhirat
sangatlah besar
walaupun di bandingkan dengan alam semesta,
maka dengan melihat kenyataan ini saja dapat di
perkirakan bahwa hati kecil lebih besar dari tubuh
maupun jiwa kita, setidak-tidaknya hati kecil
berbanding jiwa bisa saja di anggap draw atau sama besar,
dengan alasan bila kita tawadhu atau merendahkan atau
mengecilkan hati besar
, maka jiwa kita membesar oleh
besarnya cahaya akhirati dari hati kecil.




Seandainya hati kecil kita umpamakan
jendela hati atau lentera hati ataupun jendela akhirati, maka
jendela seperti apakah atau lentera seperti apakah hati kecil
tersebut, apakah mungkin jendelanya penuh seperti
kulit telur?
, mata adalah jendela kita ke
dunia luar, kitanya lebih kecil dari
dunia luar, atmosfir adalah jendela sekaligus
pelindung
dunia terhadap alam semesta, dunia lebih
kecil
dari alam semesta, jika hati kecil adalah
jendela seperti kulit telur ataupun seperti atmosfir

terhadap akhirat, maka kitalah yang berada
didalam
kulit telur ataupun atmosfir hati kecil tersebut,
dengan demikian maka jelaslah hati kecil lebih besar dari kita.




Meninjau perbandingan besar dan kecil
antara hati kecil dan jiwa, maka bila yang dikatakan hati
kecil tertutup oleh kerak amal buruk
, maka yang akan
terperangkap oleh kerak tersebut bukanlah hati kecil,
tetapi jiwa kitalah yang terpeangkap di dalam kerak
tersebut, oleh karena itu bila kita meninggal dengan
hati kecil yang berkerak tebal, tubuh kita akan hancur
namun jiwa kita terperangkap didalam kurungan kerak,
tentu saja kita tidak akan pernah sampai di
akhirat
, jikalau Allah tidak berkenan menghancurkan belenggu
kerak tersebut, Allah Maha Kuasa serta Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang yang tiada sesuatupun dapat mencegah kehendaknya.




-=*=-



mdst

Mengapa Do'a sulit terkabul






Hambaku meminta, maka akan
Aku kabulkan, demikianlah janji Allah
kepada hambanya, sedangkan janji Allah itu pasti,
tidaklah seperti janji manusia yang sering di ingkari, namun
pertanyaannya adalah mengapa dalam kenyataannya begitu sulit
do'a itu dikabulkan?, bahkan setelah mencari-cari
tempat
yang makbul, do'a yang makbul serta
cara yang makbul sekalipun, tetap saja terasa sulitnya
do'a itu terkabul, padahal janji Allah sedemikian pastinya,
hal ini tentu saja dapat atau mudah membuat orang menjadi
frustasi
, dikarenakan do'a nya tidak terkabul terus, padahal
dia telah berusaha dengan segala cara, bahkan dikarenakan
frustasinya, orang menjadi nekat untuk meminta kepada
selain Allah, melalui dukun ataupun
menjual jiwanya
kepada syaitan, sungguh sangat di
sayangkan demi terpenuhinya keinginan orang sampai
rela bermusyrik diri.







Pertama-tama kita akan mencoba untuk
mengamati hubungan antara Robb dengan
hambanya
, bagaimanakah seharusnya seorang hamba
sejati
terhadap rajanya, tentunya seorang
hamba akan tunduk, takluk, taat,
hormat, setia, membela,
menjaga
serta meninggikan rajanya, demikian
hubungan hamba dengan rajanya, dapat dibayangkan betapa hubungan
antara hamba sejati dengan tuhannya,
yang seharusnya jauh lebih hebat dibandingkan terhadap
rajanya, namun kenyataan yang umum terjadi adalah keluh kesah,
tidak sesuai keinginan, serta beribu-ribu alasan
lainnya yang pada dasarnya adalah berkeberatan atas
ketentuan
dan rencana tuhannya yang Maha
Sempurna lagi Maha Mengetahui, Allah lah yang menciptakan manusia,
tentu saja hanya Allah saja yang mengetahui apa yang
terbaik bagi setiap manusia pada setiap saatnya,
sebagaimana Allah berkata, bahwa apa yang baik menurut kamu belum
tentu baik di mata Allah dan apa yang buruk menurut kamu bisa saja
baik di mata Allah, inilah salahsatu kemungkinan tidak
terkabulnya do'a yang dikarenakan tanpa kita sadari
bahwa pada saat itu kita sedang berpaling dari kehambaan
kepada Allah, yang tentu saja janji Allah adalah
hanya untuk hambanya
.




Kemudian kita coba pula untuk mengamatinya
dari sisi pertentangan do'a itu sendiri, misal kita
berdo'a untuk meminta sesuatu yang sebenarnya tidak baik
bahkan mungkin saja sangat berbahaya bagi kita,
sedangkan Allah tentu saja sangat mengetahui apa yang
baik bahkan yang terbaik, juga sangat mengetahui apa
yang buruk bahkan yang terburuk bagi
kita pada setiap saatnya, Allah yang Maha pengasih lagi Maha
Penyayang sangat menyayangi hambanya, bahkan kita pun
dalam berdo'a sudahlah selayaknya mengawali do'a itu
dengan Basmallah, yang berarti pula kita
memohonkan
kepada yang Maha Pengasih agar
di kabulkan
, sekaligus kita memohonkan pula
kepada yang Maha Penyayang untuk melindungi
kita dari permintaan yang dapat mengakibatkan keburukan
bagi kita sendiri, maupun bagi orang lain,
sebagaimana kita menyayangi anak-anak kita, tentu saja karena
sayangnya kepada si anak, kita tidak akan menuruti permintaan
si anak
seandainya permintaanya dapat membahayakan
dirinya
sendiri ataupun orang lain dikarenakan
belum mengerti betul dengan apa yang dimintanya,
misalnya anak balita ingin bermain-main dengan pisau atau gunting
yang tajam, namun bila mereka sudah cukup besar dan
sudah mengerti, tentu kita akan memberikannya, atau
kita akan memberitahukan bahwa nanti kalau sudah besar
tentu akan di berikan.




Tentu saja lain halnya apabila kita
memintanya kepada selain Allah, kepada manusia lain
misalnya, yang sama-sama kurang ataupun tidak mengerti,
yang juga kepunyaannya sangatlah terbatas, tentu bila
memiliki akan memberi walaupun akibatnya dapat menjadi
berbahaya, sedangkan bila tidak punya tentu saja tidak dapat
membantu, apalagi bila kita meminta kepada musuh manusia
yang penuh iri dengki, yaitu syaitan yang juga
penuh keterbatasan
, bila ia mampu tentu hanya akan
membantu
kepada yang membawa keburukan,
kalaupun ia tidak mampu, ia akan membujuk kita untuk
berkeluh kesah, berpayah-payah diri juga
mendorong kita dengan fitnahnya agar berputus
asa
.




Disisi lain, sebenarnya banyak
do'a-do'a tak langsung
yang lebih makbul bila
dibandingkan dengan do'a yang langsung untuk diri sendiri,
dikarenakan bila kita mendo'akan orang lain dengan
tulus, maka kitapun akan mendapatkan yang sama
dengan orang yang kita do'akan tersebut , sebagai contoh, kita
memberi salam kepada sepuluh orang
dengan tulus dan benar, maka kita akan mendapatkan sepuluh
do'a salam
, lalu mereka menjawab salam kita, maka kita
mendapatkan sepuluh tambahan lagi, jadi dengan satu
salam kita mendapatkan dua puluh do'a salam, pada saat
kita selesai shalat membaca salam kanan dan kiri
yang berarti salam pada seluruh umat, tentu saja kita
akan menerima salam yang sangat banyak karenanya,
contoh-contoh lainnya, do'a-do'a kepada yang sedang sakit,
pernikahan, yang meninggal, yang akan
pergi ataupun pulang berhaji juga yang tidak kalah
luarbiasanya
adalah do'a yang pasti dikabulkan
yaitu bershalawat kepada Rasulullah SAW. beserta
keluarganya, bersyukur, karena segala-sesuatu yang di
syukuri akan dilipat gandakan oleh Allah.




Setelah semua pembahasan tersebut di atas,
kiranya dapatlah di ambil suatu kesimpulan kecil, ataupun kesimpulan
sederhana, bahwa kita perlu lebih bijaksana dalam
berdo'a ataupun meminta kepada Allah, dengan mempertimbangkan
kepantasan serta keamanan
dari permintaan kita tersebut,
yang dibarengi dengan tawadhu, bersabar
juga banyak-banyak bersyukur dengan apa yang telah dan
sedang kita miliki baik benda maupun kesehatan kita,
memelihara salam
, banyak membantu dan mendo'akan orang
lain
, di awali dengan Basmallah serta di
akhiri dengan shalawat nabi, dengan penuh penghayatan
kepada yang Maha Pengasih, Maha Kaya,
Maha Memberi
serta Maha Penyayang.




-=*=-



tdmk

Sufisme di Masakini




Melihat ketertarikan orang-orang pada
sufisme
di masa kini masihlah harus dipertanyakan, baik
manfaat maupun dampaknya terhadap
kehidupan masyarakat secara umum.






Sufisme
adalah isme atau dapat juga dikatakan sebagai ilmu
untuk menjalani kehidupan sufistik seorang sufi
, yang mana
diketahui bahwa akhir dari kesufian adalah awal dari kenabian, yang tentu
saja menjadikan kesufian dapat di artikan pencarian kesucian yang
tertinggi
yang menjadi dasar atau awal kenabian, demikianlah bahwa
akhir kesufian hanyalah awal kenabian menjadikan setinggi-tinggi nya
tingkat kesufian tidaklah dapat mencapai tingkat kenabian.



Para sufi berusaha untuk selalu menjaga pandang, wudlu juga
fikirannya serta segala perbuatannya
, demi tercapainnya kesucian tertinggi
yang dapat dicapai manusia.



Bagi para sufi tidak menikah
adalah yang terbaik, namun bila ternyata ada sebersit saja
syahwat terhadap lawan jenis, maka wajib
lah hukumnya bagi mereka untuk menikah, yang sudah barang tentu
mereka harus mendapatkan pasangan yang juga rela
untuk dibawa hidup bersama dengan cara yang teramat sangat
sederhana
itu.



Menjaga kehalalan makanan
dan minuman sangatlah penting bagi para sufi, dikarenakan
pintu masuk syaitan
yang paling besar adalah
melalui makanan dan minuman yang
tidak halal,
baik haram pada makanan ataupun minuman itu
sendiri, cara mendapatkannya ataupun cara mendapatkan uang yang di
pakai untuk membelinya.



Umumnya kehidupan para sufi
teramat sangat sederhana
, mereka tidak akan menyimpan atau
memiliki barang-barang sebagai harta melainkan hanya
barang-barang sekedarnya untuk dipakai dan dimakan
serta diminum saja, sesuai dengan cara mereka berpakaian serta cara
mereka makan dan minum.



Marilah sekarang kita mengamati
keadaan kehidupan
secara umum, di masakini
yang notabene untuk indonesia saja perbandingan antara
laki-laki dengan perempuan kurang lebih
berkisar antara satu banding empat (1:4) sampai dengan satu
berbanding enam (1:6), yang berarti satu laki-laki seharusnya
menanggung paling tidak empat (4) perempuan, 10.000.000
laki-laki
berkewajiban terhadap 40.000.000 perempuan,
dalam hal ini menanggung ataupun berkewajiban tidaklah di artikan
dalam arti menikahi, melainkan bertanggung jawab dalam arti yang
seluas-luasnya, perbandingan tersebut akan lebih besar
lagi di negara-negara yang sedang dalam keadaan berperang,
karena peperangan pada umumnya akan sangat berpengaruh dengan
berkurangnya jumlah laki-laki, semua itu di perparah lagi dengan
merebaknya kaum gay atau homo,
kebudayaan tidak menikah atau kumpul kebo, juga
situasi negara yang sulit menimbulkan banyak faktor stress
yang dapat menghilangkan potensi laki-laki, serta
kasus-kasus lainnya yang berdampak serupa.



Selain itu banyak pula orang yang
tertarik dengan cara hidup sufi namun tidak pernah mengira betapa
sulitnya
menjalani kehidupan seperti demikian serta
kurangnya pengetahuan
dalam ketentuan-ketentuan islam
yang sedemikian kompleksnya, sehingga pada saat
mencobanya malah terperangkap kepada
berbangga-bangga
dengan jubah ataupun
baju bertambal
, kehidupan para sufi adalah kehidupan yang
sangat-sangat sulit
bagi orang-orang pada umumnya,
dikarenakan hanya orang-orang yang sudah pada tahapan tidak
membutuhkan apapun selain Allah
saja yang dapat menjalaninya,
jadi sebaiknya bagi orang-orang yang masih membutuhkan barang-barang,
baik itu barang dunia maupun barang akhirat
sebaiknya tidak usah berkeinginan menjalani kehidupan kesufian.




-=*=-

tas

Tasawuf Bukanlah Sufisme



Tasawuf serta sufisme
terlihat merebak akhir-akhir ini di indonesia, namun bila kita amati
dengan lebih seksama akan kita dapati kerancuan dalam pemahaman terhadap
arti tasawuf dan arti sufisme yang di anggap sama, juga terdapat kerancuan
terhadap arti sufistik, sufisme, filsuf, filosofi dlsb.






Oleh karena itu marilah kita
cermati apa dan bagaimana sebenarnya tasawuf dan
sufisme
serta dimana letak perbedaanya.





Sebagaimana kita ketahui
bahwa Nabi SAW. berkata bahwa umur umatku tidak jauh dari umurku,
sedangkan pada saat wafat Nabi SAW. adalah berusia 63 tahun, sehingga hal
tersebut mengisyaratkan bahwa umur umat Muhammad SAW. berkisar di sekitar
63 tahun saja, sehingga bila ada yg berusia hingga 70-90 tahun merupakan
hadiah atau tambahan kesempatan untuk menambah amal ataupun untuk bertobat
bagi yang masih berasyik-asyik dengan dunia, disamping itu terdapat pula
pendapat yang menyatakan pembagian tiga terhadap standar usia 63 tahun
tersebut menjadi tiga bagian yang masing-masing terdiri dari 21 tahun,
ketiga bagian tersebut diterangkan sebagaimana berikut ini:




  • 21 tahun pertama adalah Syariat.

  • 21 tahun kedua adalah Hakikat.

  • 21 tahun ketiga adalah Marifat.



Jadi idealnya dalam kehidupan umat islam
seharusnya 21 tahun pertama adalah saat untuk
berlomba-lomba mengumpulkan ilmu yang bermanfaat yaitu ilmu
pembeda salah dan benar atau gelap dan terang, serta di tambah ilmu
pengetahuan umum yang berguna untuk menunjang modal kehidupan.



Sedangkan 21 tahun kedua
adalah saat untuk pencarian kebenaran atau pembuktian
dari semua ilmu yang telah didapatkan tersebut diatas, seyogyanya
pencarian kebenaran tidaklah menjadikan terhentinya pencarian atau
penambahan ilmu, sebab kita senantiasa harus terus belajar dan menambah
ilmu selama kematian belumlah menjeput.



21 tahun ketiga baik lebih
maupun kurang adalah saat setelah teruji kebenaran dari ilmu yang didapat
tersebut, menjadi saat keemasan kehidupan ruhaniah seseorang yang secara
umum dapat dikatakan memasuki usia kebijakan (kurang lebih dimulai pada
usia 43-50 tahun), yang secara sisi ruhaniah menjadi masa pengenalan
terhadap Allah sebagai pemilik segala ilmu serta segala sesuatu yg
terkait kepada ilmu tersebut, yang mana keterkaitan tersebut dapat
diartikan sebagai pembuatan, sebagaimana Allah dengan ilmunya telah
membuat atau menciptakan alam semesta beserta isinya dan yang termasuk
didalamnya adalah manusia, yaitu kita.



Dengan demikian maka menjadi jelaslah bahwa kita
hanya dapat mengenal dan merasakan keberadaan Allah dengan
pengenalan
akan kebenaran ilmu serta segala
ciptaan
Nya, sedangkan kebenaran ilmu Allah kiranya hanya bisa
kita dapatkan dari hikmah kehidupan dengan berbekal atau bermodalkan sabar serta tawadhu.



Setelah mengamati ulasan kehidupan yg panjang
dan berbelit tersebut di atas maka sampailah kita pada pengenalan dari
arti tasawuf yang merupakan ilmu marifat atau
ilmu pengenalan terhadap Allah, sedangkan
sufisme
adalah isme atau dapat juga dikatakan sebagai ilmu
untuk menjalani kehidupan sufistik seorang sufi
, yang mana
diketahui bahwa akhir dari kesufian adalah awal dari kenabian, yang tentu
saja menjadikan kesufian dapat di artikan pencarian kesucian yang
tertinggi
yang menjadi dasar atau awal kenabian, demikianlah bahwa
akhir kesufian hanyalah awal kenabian menjadikan setinggi-tinggi nya
tingkat kesufian tidaklah dapat mencapai tingkat kenabian.



Sekarang tentunya telah menjadi lebih teranglah
perbedaan antara tasawuf dengan sufisme, walaupun sangatlah jelas bahwa
sufisme adalah salah satu ilmu atau cara menjalani tasawuf bagi para sufi,
sedangkan tasawuf itu sendiri dapat dipelajari atau di amalkan siapa saja
yang ingin mencapai tingkat marifatullah dengan cara mencari
bukti-bukti kebenaran dari ilmu serta segala sesuatu ciptaan Allah atau
yang dikenal dengan merenung sesaat yang dapat menghasilkan pemahaman akan
kebenaran ilmu-ilmu Allah dengan imbalan 1000 rakaat shalat, juga dapat
dicapai dengan cara mencari hikmah dari setiap permasalahan dalam
kehidupan pribadi maupun orang lain dengan berbekal sabar, tawadhu,
prasangka baik pada Allah sesuai dengan janji-janji serta ketetapan Allah
pada hambanya.



Sedangkan pada kasus kerancuan yang terjadi akibat
fisafat islam yang menjadi bahasa umum para sufi yang sedemikian sulit
untuk dimengerti orang awam adalah penyebab para sufi di anggap orang yang
tidak normal dengan segala cerita keanehan-keanehan kehidupan mereka yang
sebetulnya di ceritakan oleh para penganut sufisme dalam bahasa filsafat
yang tentu saja tidak mudah dimengerti atau di pahami kecuali bagi mereka
yang sudah terbiasa mendengar istilah-istilah serta kata-kata kiasan yang
menyerupai syair atau puisi, atau untuk mudahnya kita harus berfikir untuk
mengartikan sebuah kata kias, syair ataupun puisi, sudah barang tentu akan
jauh lebih sulit lagi bila kata kias, syair atau puisi itu memakai bahasa
fisafat pula, tentu saja akan menjadi sangat rumit untuk mengerti artinya,
apalagi untuk menghayatinya.



Sebagai contoh, ada seorang sufi yang pada
saat itu terjadi perbantah-bantahan didalam hatinya
sedangkan ia sedang berjalan di gurun pasir, sehingga ia berjalan
terus di gurun pasir tersebut selama satu tahun tanpa makan dan minum
,
juga ada seorang sufi yang sedang berpuasa, lalu saat ia sedang menolong
seseorang untuk memperbaiki atap rumah ketika ia berada di ujung tangga,
si empunya rumah menyuguhkan makanan dan minuman yg terlihat enak dan
segar dikarenakan ia sedang berpuasa, sehingga terjadilah
juga perbantah-bantahan didalam hatinya sehingga
satu tahun atau dua tahun ia berada di atas tangga tersebut
,
kedua cerita tersebut diatas seakan-akan menceritakan kehebatan
atau terlihat begitu saktinya seorang sufi yang
mengakibatkan perbedaan pendapat bagi pembaca atau pendengar cerita
tersebut, bagi orang yang tertarik supranatural tentu saja
ingin mempelajari ilmu kesufian tersebut agar dapat menjadi hebat
atau sakti
sebagaimana sang sufi yg ia bayangkan
kehebatannya, dilain fihak bagi orang yang tidak percaya atau kurang
percaya akan hal supranatural atau klenik menjadikan
mereka memandang cerita tersebut sebagai suatu kebohongan yang
sangat besar
, sehingga menjadikan ia memandang sang sufi dan
para sufi sebagai pembohong besar.



Disinilah letak kerancuan pendapat
awam
dalam mengartikan cerita yang di sajikan
sebagai cerita, kata kias, syair atau puisi dengan memakai bahasa
fisafat islam
yang tentu saja sulit untuk dimengerti begitu saja,
walaupun sebenarnya dapat saja secara sederhana dicarikan
perumpamaannya
dalam kehidupan keseharian kita,
misalnya kita mempunyai kenalan, baik itu di kantor maupun di mana saja
tempat yang sering kita bertemu dengannya sedangkan orang tersebut
selalu membuat kita jengkel karena entah itu kelakuannya ataupun cara
berbicaranya yang selalu menjengkelkan kita, yang tentu saja semua itu
berjalan dalam waktu yang cukup lama ataupun lama sekali akan
menjadi ganjalan di hati
kita sehingga baru berakhir bila orang
tersebut tidak menjengkelkan lagi atau orang tersebut tidak disana lagi
atau kita yang sudah tidak disana lagi, tentu saja kita tidak dapat
memprediksi berapa lama ganjalan tersebut akan mengganggu kita bisa
satu minggu, satu bulan, satu tahun bahkan mungkin saja sepuluh tahun
,
ganjalan di hati kita tersebut dapat kita perumpamakan
sebagai perbantah-bantahan yang terjadi di hati sang sufi
tersebut, tentu saja baik kita maupun sang sufi tersebut, secara
kenyataannya
tidak berdiam di tempat tersebut atau pun
berhadapan dengan orang tersebut selama waktu masih terjadi ganjalan
atau selama terjadi perbantah-bantahan tersebut, melainkan baik kita
maupun sang sufi tersebut tetap melaksanakan kegiatan kita
sehari-hari seperti biasanya
, walaupun ada ganjalan di hati kita
maupun perbantah-bantahan di hati sang sufi tersebut.



Memandang kasus tersebut di atas maka
menjadi jelaslah bagi kita, bahwa sebenarnya tidaklah ada suatu
keanehan
dalam kehidupan seorang sufi, melainkan sama saja
dengan kehidupan kita sehari-hari, yang berbeda hanya masalah cara hidup
saja, kehidupan seorang sufi, sama saja dengan seorang
guru agama (ustadz), da'i atau ulama secara umum, hanya saja biasanya
mereka berusaha untuk selalu menjaga pandang, wudlu juga
fikirannya
, demi tercapainnya kesucian tertinggi
yang dapat dicapai manusia.



Dengan demikian, maka baik ganjalan hati
ataupun perbantah-bantahan hati hanyalah suatu bentuk
kemacetan , stuck atau terhentinya salah satu proses ruhaniah kita

dalam jangka waktu tertentu, yang di perumpamakan
seakan-akan waktu terhenti sedangkan diri tetap
berjalan
atau diri terhenti sedangkan waktu
terus berjalan
, dan lain sebagainya perumpamaan.



Mungkin contoh kematian yang
secara umum ditakuti dapat menjadi contoh yang lebih mudah
dimengerti, misalkan pada suatu sore hari, kita sedang memotong rumput di
halaman rumah, selagi asyik memotong rumput tiba-tiba kita teringat
akan kematian
yang sangat menyakitkan sakratul
mautnya sehingga kita menjadi takut akan kematian yang pasti
datang itu, maka selama kita takut akan kematian tersebut
selama itulah pengetahuan ruhanian tentang kematian kita terhenti,
seakan-akan bila ingat soal kematian kita ingat saat pertamakali takut itu
datang di taman rumah kita tersebut, walaupun keruhanian
kita selain tentang kematian terus berjalan, baik itu
belajar agama ataupun segala peribadahan kita tetap berjalan seperti
biasanya, juga kegiatan kita sehari-hari tetap berjalan normal seperti
biasanya, namun selama kita masih takut akan kematian
tersebut, selama itu pula pemikiran kita tentang kematian tetap
tertahan di taman tersebut
, sehingga waktu seakan-akan
berhenti untuk masalah kematian tersebut
, walaupun kegiatan kita
berjalan normal seperti biasanya, pada suatu hari, tiga tahun
setelah masalah di taman itu, bertemulah kita dengan seseorang yang
memberi tahukan bahwa tiada rasa sakit, walaupun hanya
sebiji zarah
kecuali akan ditambahkan kemuliaan
baginya, sehingga dengan pengetahuan ini kita menyadari
bahwa sakratul maut yang super sakit itu dapat ditukarkan
menjadi super mulia, yang merupakan kesempatan terakhir atau
tambahan yang sangat menguntungkan, yang diberikan Allah yang Maha Pemurah
lagi Maha Penyayang kepada hambanya, berkah ini tentu saja menghapus
ketakutan kita kepada sakratul maut, sehingga kematian
bukan lagi
merupakan hal yang menakutkan, dengan demikian
hilanglah sudah kemacetan
ruhaniah akan kematian
tersebut, setelah tiga tahun membebani kita, kejadian tersebut dapat
diperumpamakan
semenjak sore tersebut kita terus
mencabuti rumput selama tiga tahun
tanpa makan dan minum,
tanpa makan dan minum ini dapat diartikan selama tiga tahun
kita tidak mendapatkan jalan keluar dari masalah ketakutan
tersebut.



Tentu saja jika kita menceriterakan
kepada banyak orang, bahwa kita mencabuti rumput tanpa makan dan minum
selama tiga tahun dikarenakan takut akan kematian, diantara
mereka akan ada yang mengatakan kita pembohong besar,
sedangkan diantara yang lainnya ada yang akan menganggap kita orang yang
sangat sakti, padahal kita hanya orang biasa saja.



-=*=-



Seebayu1p



































































































































































































1. Tasawuf bukan Sufisme
2. Sufisme di Masakini
3. Mengapa Do'a Sulit Dikabulkan
4. Besar mana Hati atau Jiwa
5. Khusyu
6. Nasib Perempuan
7. Haji
8. Bercermin
9. Puasa
10. Do'a Warisan
11. Zakat
12. Dilarang Merokok!!!
13. Shalat
14. Jual Diri
15. Syahadat
16. Jangkauan Ulama
17. Ghaib
18. Administrasi Amal
19. Shalawat
20. Pernikahan
21. Syukur
22. Saat Terbangun
23. Bahagia
24. Jilbab
25. Berprasangka Baik
26. Banjir dan Fenomena
27. Kesadaran Kita
28. Dzikir
29. Soleh - Solehah
30. Mabrur
31. Wudlu
32. Hamba Allah
33. Anak
34. Kebenaran Allah
35. Tahlilan
36. Angkat Tangan!!
37. Ikhlas
38. Iqro
39. Sumpah
40. Barang Berharga






41. Jodoh
42. Tubuh
43. Nyawa
44. Jiwa
45. Rizki
46. Ruh
47. Mengenal Akhirat
48. Dewasa
49. Meraih Akhirat
50. Sufisme
51. Kita
52. Tahu siapa Saya!?!?
53. Agama
54. ISLAM
55. Al Qur'an
56. Al Hadist
57. Was-was
58. Rambut
59. Ragu
60. Bule
61. Niat
62. Ratapan
63. Istri
64. Rasul
65. Wanita Solehah
66. Wanita Karir
67. Golongan
68. Selat Jawa
69. Tawadhu
70. Keikhlasan
71. Sabar
72. Kerinduan
73. Dusta
74. Salam
75. Kanan
76. Imam Mahdi
77. KeLahiran
78. KeMatian
79. Sehat
80. Sakit













Muka

Links
Bag-2 Kembali




ya Allah kucoba tuk
melihatnya

ya Tuhan Pencipta

ku kan coba tuk membacanya

atas namaMu yang Menciptakan

bisikanlah ilmu kepadaku

kudengar tasbihnya kepadaMu

melalui lisan ku

sentiasa ingatkan ku akan Mu

Subhanallah







tracker
free web tracker
hit counter

Seebayu3p