Kamis, 30 Juli 2009

ratap

Ratap






Ratap, meratap, meratapi, rasanya
hal
ratap-meratap tersebut menggambarkan suatu
unjuk rasa yang memang oleh islam dilarang bagi
kita untuk melakukannya.







Meratap tentunya memang
suatu gambaran unjuk rasa ketidak setujuan bahkan
mungkin menjadi ketidak puasan atas keputusan takdir yang
telah Allah tentukan, hal tersebut tentunya sama saja
artinya dengan menuduh Allah tidak menghitung
dengan
benar saat merencanakan ataupun membuat
serta menjalankan takdir tersebut.




Tidak pernah ada sisi
baiknya dari apa yang dinamakan ratapan tersebut, hal
tersebut hanya menunjukan bahwa orang tersebut tidak
pernah ataupun tidak mau belajar cara
menghadapi kenyataan hidup, meratapi keadaan sama saja dengan
tidak puas atas pemberian Allah, meratapi diri sendiri juga
sama
saja dengan tidak puas terhadap dirinya
sebagai ciptaan Allah, islam tidak
mengajari ummatnya untuk menyesali, yang diajarkan
islam adalah menyadari lalu
memperbaikinya, takdir Allah adalah pasti, kehidupan
tidak dapat diubah, yang dapat diubah
adalah cara dalam menghadapinya.




Namun dalam hal
ratap-meratap tersebut ada suatu kaum yang malah
mempunyai ritual bahkan tempat khusus untuk meratap,
entah meratapi apa, yang pasti meratap adalah
unjuk rasa, demo, tidak puas kepada Pencipta segala
sesuatu bahkan kepada Pencipta dirinya sendiri pun,
meratap yang disadari bahkan dengan disengaja
barangkali akan lebih tepat lagi bila diartikan
sebagai
tidak menghargai atau merendahkan serta
membangkang.




Oleh karena hal-hal yang negatif
dari
meratap tersebutlah kiranya menjadi sangat tidak
disarankannya bagi para wanita mengikuti jenazah keluarganya
hingga
ke pemakaman.




Pada masa reformasi terjadi kebebasan
pers yang membuat media-media massa terlalu bebas
menyuguhkan apa saja yang seringkali melampaui batas
kepantasan yang dapat diterima, bahkan
sering terjadi melanggar hak prifasi sesorang, dengan
bongkar-bongkaran aib orang, yang dapat menjadikan
kehacuran suatu perkawinan yang dapat menjadi berita
perceraian yang lebih menguntungkan lagi perusahaan media tersebut,
padahal ilmu apapun yang dipergunakan
untuk
mencerai beraikan suatu perkawinan,
sangat beratlah hukumannya, mungkin
banyak orang mengira bahwa ilmu tersebut adalah
ilmu guna-guna, padahal sebenarnya adalah ilmu apapun,
walaupun itu hanya ilmu berbicara..




Bencana alam yang
beritanya disajikan media massa pun, seringkali
menampilkan gambar-gambar yang kurang pantas, sosok
mayat yang sudah bengkak, hangus, terpotong-potong,
keluarga yang terkena bencana dalam keadaan
meratap-ratap  serta lain sebagainya hal yang
sangat tidak baik untuk dilihat oleh anak-anak,
bahkan
orang yang sudah dewasa pun merasa
ngeri, bagaimana pula jika kita melihatnya saat kita kebetulan
sedang
makan, tentunya akan menjadi mual serta
kehilangan
berkah makanan kita.




Kengerian yang menjadi reaksi kita
adalah
sangat wajar, sebab kehalusan hati
kita membuat kita mudah terharu, ngeri kepada bencana,
khawatir melihat ataupun mendengar suara petir, semua
itu menjadi lebih mengingatkan kita kepada Allah yang
Maha Kuasa.




Namun banyak media yang
baik karena kebodohan, ataupun keteledoran
bahkan
mungkin saja merupakan suatu
kesengajaan, menampilkan berbagai macam kekerasan,
kejijikan, kejorokan hingga profokasi birahi, yang dapat
menjadikan kita keras hati sehingga sulit tersentuh
untuk
mengingat Allah.




Jika kita sudah kehilangan
rasa jijik, ngeri, malu serta kepantasan maka
tanpa
disadari kita telah terseret kepada
kekerasan hati yang dapat membuat kita menjadi manusia
yang kejam tanpa perasaan, egois serta
lain sebagainya sifat buruk.




-=*=-



niat

Niat






Banyak pendapat yang kita
sering dengar berkaitan dengan masalah niat, ada yang
di bisikan, ada yang cukup didalam hati serta ada pula
yang dengan melakukan sudah menganggap pasti berniat.







Sudah jelas bagi kita bahwa
manusia adalah makhluk yang mudah sekali lalai serta
terlupa, sehingga bila diharuskan untuk melakukan
sesuatu biasanya sering terlewat karena terlupa,
bahkan
bila tidak terlupa pun masih juga dapat
terkena terlalaikan sehingga kehilangan esensi
atau
arti sebenarnya dari hal yang
dilakukannya tersebut, demikian dalam mengerjakan
demikian pula dalam melihat, sungguh kita seringkali
melupakan siapa yang menciptakan dunia yang setiap
hari kita tinggali ini berserta segala isinya serta
penyangganya yang berupa alam semesta.




Syaitan berusaha dengan
berjuta cara agar manusia menjadi terlupa serta lalai
dalam menunaikan tugasnya sebagai manusia, agar
dapat menemani mereka nanti di dasar neraka, Allah
yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, sangat
menyayangi hambanya, Allah memberikan kemudahan yang
sedemikian besar serta penuh kemurahan, berupa
hadiah kepada niat agar hambanya selamat dari serangan
syaitan tersebut dengan setidaknya masih
senantiasa mengingat Allah dalam segala niatnya,
dikarenakan
mengharapkan hadiahnya, sebab
untuk melaksanakan niatannya tersebut mungkin saja
hambanya tersebut terhalang oleh berjuta jebakan
syaitan pula.




Allah juga memberi kesempatan
serta
dorongan kepada manusia melalui niatnya,
sedangkan syaitan paling sering menghambat serta
membatalkan niat manusia tersebut, manusia didewasakan serta
dididik agar menjadi pandai serta
terarah oleh Allah, dengan senantiasa mengerti
serta
merencanakan segala sesuatu yang akan
dikerjakannya, serta trertib dalam pelaksanaanya,
sehingga
mendapatkan hasil yang matang
serta
penuh arti juga barokah, sedangkan syaitan
akan
berusaha membuat orang terburu-buru mengerjakannya,
sehingga
hasilnya menjadi kurang baik, tanpa arti
juga
kehilangan barokahnya.




Memang ada yang mengatakan
untuk apa berniat tetapi tidak mengerjakan, yang
penting mengerjakannya saja..., betulah pendapat tersebut bila
memang hasil serta pelaksanaan pengerjaannya tersebut
dilakukan atas nama Allah, serta tertib
barokah, namun bila ternyata dalam pengerjaannya
menjadi terburu-buru bahkan melupakan untuk siapa
serta
karena siapa pekerjaan tersebut dilakukan, maka
hanya
dunia sajalah hasil dari pekerjaan
tersebut.




Sungguh disayangkan bagi yang
melakukan tetapi menempuh resiko digerogoti kelalaian
yang dapat mengakibatkan kesia-siaan secara
nilai akhiratnya, tentunya akan sangat lebih baik bila
dibarengi dengan kemantapan niatnya serta
ketertiban pelaksanaannya, sehingga mendapatkan satu
dunia dengan dua akhirat sebagai hasil dari
pekerjaannya tersebut, sebab niat mendapatkan nilai
satu akhirat, jika terlaksana maka akan mendapatkan
satu hasil dunia serta satu hasil akhirat lagi
sehingga totalnya menjadi dua akhirat satu dunia.




Dengan ditambahkannya niat atau
maksud, kita menambah sedikit kegiatan bathin, untuk
dapat menjadikan hasil yang didapat menjadi
berlipat ganda, cegahlah tiupan syaitan yang membuat
kita malas memancang niat serta bujukan agar
menunda-nunda sehingga kita terburu-buru mengerjakan
segala sesuatu, yang akan membuat kita
menjadi kehilangan yang sangat banyak.




Jika kita mau pun memancang niat
serta
maksud kita dengan membisikan niat kita
tersebut kepada telinga kita sendiri dapat kita anggap
bahwa tubuh kita terutama telinga kita yang
mendengar niat kita tersebut, kita harapkan pada
saatnya mereka bersaksi nanti, dapat menambah sedikit
persaksian kebaikan kita dengan persaksian saat kita
berniat.




Tentu saja jika niat tersebut jika
diucapkan dengan keras-keras, selain mengganggu orang
lain dapat juga menjadikan kita terseret kepada
sifat riya yang merugikan serta menggerogoti amal
ibadah kita.




Allah memberikan kemurahan kepada
kita sebagai hambanya, tentunya sebagai hamba yang
baik serta tawadhu, akan malulah jika
kita menolak kebaikan serta kemurahan yang Allah
berikan kepada kita, sebagai
pengejawantahan kasih serta sayang Allah kepada kita agar
kita selamat didalam menempuh perjalanan dunia ini.




-=*=-



bule

Bule






Berkat terjajahnya negara kita
oleh
belanda selama kurang lebih tiga ratus
lima puluh tahunan, maka masih banyak sekali rakyat
kita yang menjadi berlebih-lebihan menghormati orang
yang rambutnya bule atau pirang.







Rambut pirang atau biasa
disebut bule, masih sangat berkesan mendalam di hati
rakyat kita, tiga ratus tahun lebih menghamba
kepada
meneer belanda yang bule, sebagai
rakyat jajahan membuat menjadi otomatis merasa rendah
diri serta menghormat berlebihan bila
bertemu orang yang rambutnya bule.




Rasa rendah diri serta hormat berlebihan
yang seakan-akan sudah menjadi refleks
tersebut menunjukan juga bahwa kesadaran kita
dapat
dikelabuhi perasaan atau naluri yang
tumbuh turun temurun selama ratusan tahun tersebut,
mungkin naluri budak bekas jajahan tersebut akan sulit
untuk dihilangkan, entah harus melewati
berapa keturunan untuk menghilangkannya.




Silaunya terhadap rambut
bule tersebut dapat menimbulkan dampak samping berupa
keinginan meniru gaya hidup bule, memakai
produk-produk bule bahkan ingin berambut atau
berwajah bule, sebab itu pula wanita-wanita keturunan setengah
bule menjadi sangat laku untuk menjadi artis, karena
rakyat kita masih sangat memuja bule, mungkin sudah
naluri.




Naluri tersebut akan
menjadi berbahaya bila terjadi penyusupan bule maupun
produk bule kedalam kehidupan islami rakyat kita
untuk
kemudian merusaknya, hal tersebut pernah
terjadi di padang pada jaman dahulu.




Jaman sekarangpun cukup
banyak, bahkan mungkin banyak sekali penyusupan
yang
terjadi, baik yang berpura-pura menjadi
mualaf, bahkan banyak pula ustadz-ustadz produksi
belanda yang sebenarnya misionaris gereja, ada
juga
ustadz produksi negara super yang mengaku
berjuang perang bersendiri di jalan Allah, yang
terkesan seperti jagoan di film-film yang mampu
mengalahkan satu negara dengan berseorang diri,
serta
segudang penyusup-penyusup lainnya.




Banyaknya produk-produk islami ala
bule ini haruslah dicermati serta diwaspadai, sebab
naluri
hormat bule yang masih banyak mempengaruhi rakyat
kita dapat sangat berpengaruh dalam
menyusupnya isme-isme merusak yang memang sangat
terencana dalam menghancurkan kehidupan islami di
negara yang penduduk muslimnya terbanyak didunia ini.




Di akhir jaman diceriterakan bahwa
dajjal dan tentu saja para pengikutnya, di kening
mereka tertuliskan kata kafaro yang hanya dapat di
baca oleh orang muslim, baik yang dapat baca-tulis
maupun
yang tidak dapat baca-tulis, hal baca tulisan di
kening tersebut tentunya merupakan peringatan bagi
kita untuk mewaspadai pembawa kening
bertulis tersebut.




Wanita atau perempuan adalah
sasaran dajjal yang paling empuk, dikarenakan
sesuai
dengan ceritera akhir jaman pula yang mengatakan
bahwa
pengikut dajjal tersebut banyak
sekali perempuan, sehingga seorang laki-laki sampai diikuti
oleh empat puluh orang perempuan, tentunya dikarenakan hal
tersebut perempuan atau wanita jaman sekarang ini haruslah
lebih
terlindungi dari bujukan para penyusup
tersebut yang tentunya menjanjikan banyak kesenangan
pada perempuan.




Salah satu ciri ustadz
penyusup produk belanda adalah berdua-duaan saja
dengan ruangan gelap dengan lawan bicaranya, baik itu
laki-laki maupun perempuan, namun yang laki-laki hanya
sekedar agar tidak dicurigai, sedangkan yang
dengan
perempuan adalah merusak aturan yang
paling mendasar, yaitu membiasakan perempuan berduaan dengan
laki-laki yang bukan muhrimnya di ruang gelap dengan
mengabaikan syaitan sebagai orang ketiganya.




-=*=-



ragu

Ragu






Keragu-raguan adalah bibit
bingung yang dihembus-hembuskan oleh syaitan kedalam
dada manusia, agar manusia tersebut kehilangan
keyakinan serta ketertibannya.







Ragu adalah penggerogot
iman paling berbahaya, juga ragu adalah pembuang waktu
yang sangat ampuh, oleh karenanya sebaiknya
kita senantiasa untuk membuang jauh-jauh keraguan dari
dalam hati kita.




Bila kita meragukan sesuatu
hal maka kita akan terhenti disana hingga waktu
yang
sulit untuk diperkirakan, kita terhenti sedangkan
waktu berjalan terus dengan cepatnya, hanya bila
kita telah dapat menentukan salah-satu dari hal yang
diragukan tersebut, barulah kita terlepas dari
keraguan serta waktu kita pun dapat
mulai berjalan lagi.




Allah mengingatkan kita khusus
tentang ragu tersebut bersama dengan was-was, keduanya
ditiupkan oleh syaitan baik yang  tidak terlihat
maupun yang berbentuk manusia.




Sekarang-sekarang ini banyak
isme ataupun ideologi asing yang dihembuskan dengan
paksa ke seluruh dunia yang dapat menimbulkan keraguan
bagi ummat manusia dalam menentukan
aturan main kehidupan, dari mulai isme banyak orang,
atau menurut orang terbanyak, atau dipilih
orang terbanyak, atau mungkin juga menjadi yang paling
populer, sampai dengan pribadi setiap orang juga
kebebasan pribadi.




Sebenarnya bila kita amati,
bebas itu sama saja artinya dengan tidak
ada aturan, kebebasan seseorang tentunya akan
melanggar kebebasan orang lain, bila seorang perempuan
bebas bertelanjang di tempat umum yang tentunya akan
mengundang birahi semua laki-laki yang melihatnya,
tetapi
hanya ingin dilihat serta dikagumi
saja dan hanya boleh disentuh oleh laki-laki
yang
dia inginkan saja, memang secara akal
manusia yang dangkal adalah masuk akal sebagai
kebebasan pribadi si perempuan tersebut, tanpa perduli
semua laki-laki lain yang tidak diharapkannya tersebut
harus membuang birahinya kemana, bahkan
si perempuan tersebut ingin dipuji keindahan badannya
oleh semua orang dengan aman, tanpa
resiko dari laki-laki yang terprofokasi syahwat
birahinya akibat perbuatannya tersebut.




Begitu pula bagi orang
yang berpamer kekayaan ataupun kemewahan dihadapan
orang-orang fakir serta miskin, tentu saja harus
mau menerima resiko terjadinya suatu akibat dari orang
yang tergoda ataupun terprofokasi oleh pertunjukan
tersebut sehingga mendadak berniat berbuat
jahat dikarenakan ia sangat membutuhkan sedikit uang,
juga hal tersebut dapat terjadi pada anggota tertentu
dari suatu negara kaya yang bermewah-mewah
bahkan
berlaku sewenang-wenang di negara miskin yang
telah di hancurkannya tersebut.




Ukuran kepopuleran atau
hasil dari banyak orang, tentu saja tidaklah dapat
dijadikan tolok ukur bahwa hasil tersebut dapat
dijamin kebenarannya, sebab dengan kekuatan uang
maupun
kekuatan senjata, akan mudah saja
memaksa orang banyak untuk melakukan kesepakatan
terhadap
hal yang tidak benar, bahkan hal
yang bertentangan pun dapat saja dipaksakan untuk
disepakati orang banyak yang lemah, yang terhutangi
serta
banyak hal lagi yang dapat dipakai
untuk menekan banyak orang, bahkan negara sekalipun.




Memang dalam hal
menghadapi keragu-raguan ini banyak orang yang menjadi
korban disebabkan sulitnya untuk menghindarinya,
tentunya jika pilihan yang tersedia adalah
antara benar dan salah, maka akan mudah saja kita
memilihnya, yaitu memilih yang benar, namun bila
kenyataannya pilihannya adalah kedua-duanya salah
mungkin
kita akan menjadi bingung serta
ragu untuk memilihnya, sebab dibutuhkan ilmu yang
cukup untuk memilihnya mana yang paling sedikit
kesalahannya.




Kehidupan ini memang sulit,
penuh dengan dilema yang didalamnya kita sering
dipojokan kepada pilihan yang sangat sulit, baik itu
pilihan benar dan benar, benar dan salah ataupun
pilihan salah dan salah, yang manapun pilihannya, kita
tetap harus memilih yang paling tepat atau
bahkan salah sekalipun, sebab tidak memilih adalah
pilihan yang lebih salah, kita akan
terperangkap dalam keraguan yang panjang serta waktu
dapat terhenti hingga bertahun-tahun, sedangkan
jika
kita berani memilih walaupun yang salah
maka waktu akan tetap berjalan dimana kita
mempunyai
kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dari
pilihan kita ataupun kita sampai kepada
pilihan lainnya yang lebih baik ataupun
lebih mudah atau bahkan sama beratnya sekalipun, akan
tetapi kita dapat terus berjalan dan tidak
terhenti dalam keraguan yang lama dengan sangat banyak
waktu yang terbuang percuma.




Banyak dari kita yang tidak
berani mengambil pilihan salah yang kecil sehingga
terkena sakit keraguan yang lama, padahal Allah Maha Pengampun lagi
Maha Bijaksana, tidaklah mungkin manusia dapat
menjalani kehidupan didunia yang terbuat dari tanah
ini yang bila hujan menjadi lumpur, namun
ingin bersih tanpa terkena lumpur ataupun
tanah sedikitpun, wudlu sehari lima kali pun memberitahu kita
bahwa
kita akan senantiasa terkena kotoran dalam
kehidupan, bahkan memperbaiki wudlu walaupun belum batal cukup
disarankan.




Sebagai contoh lain, kita
dapat mengambil dari masalah perkawinan, menurut
rujukannya dalam hal perkawinan, disana dikatakan bahwa
yang demikian itu dapat mendekatkan kepada
tidak berbuat aniaya, dan bukannya dapat menghindarkan,
dengan demikian dapat diartikan bahwa
didalam pernikahan, pastilah setidaknya akan terjadi
perbuatan aniaya, namun bila dibandingkan dengan
hubungan tanpa aturan yang dapat menimbulkan aniaya
yang
sangat besar bahkan dapat berubah
menjadi kekejian, aniaya perasaan yang berubah bentuk
menjadi pengorbanan didalam melaksanakan
kewajiban-kewajiban untuk mengisi perkawinan
yang
dimuliakan Allah, adalah jenis aniaya
kecil yang masih dapat diterima ataupun masih masuk
dalam batasan toleransi kewajaran sebagai
modal berdagang dengan Allah yang senantiasa
menguntungkan kita..




Sekedar untuk diingat oleh
kita, dalam menjalani kehidupan masa akhir jaman ini,
kita haruslah pandai menentukan pilihan kita, agar
dapat
memilih dengan bijak antara pilihan
kebenaran islami dengan pilihan kebenaran secara umum
atau kebenaran menurut orang banyak, sebab
seringkali kebenaran umum yang merupakan kebenaran
import produk asing lebih diutamakan dibandingkan
kebenaran yang hakiki dari Allah, sehingga tanpa
sengaja kita menentang ketentuan ataupun aturan Allah
dengan beralasankan aturan atau kebenaran secara
umum.




-=*=-



rambut

Rambut






Biasanya rambut kepala adalah
bagian
dari tubuh manusia yang di
bangga-banggakan oleh pemiliknya, kurang lebih mendekati
kepada
mahkota tubuh.







Banyak sekali orang-orang yang
merawat rambutnya kepalanya sedemikian rupa sehingga
mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, dengan
harapan rambutnya tersebut dapat menjadi kebanggaan
dirinya.




Tanpa kita sadari bahwa
segala sesuatu yang dilebihkan, akan menimbulkan
beban
cobaan yang lebih besar pula, demikian juga
dengan
rambut yang dianggap mahkota kita tersebut
dapat
menyeret kita kedalam berbangga diri bahkan
miungkin kedalam keriyaan.




Hal rambut kepala tersebut bagi
orang muslim, mungkin tidaklah terlalu menjadi masalah
lagi, sebab bagi perempuan Allah yang Maha Tahu
telah
memerintahkan menutupinya dikarenakan termasuk
kedalam
auratnya, hanya suaminyalah yang berhak
untuk memandang mahkota ratu sang istri tersebut, juga
bagi laki-laki memang di sarankan juga untuk menutup
rambutnya demi ciri seorang hamba yang tawadhu.




Bila kebanggaan akan rambut
dibiarkan
menjajah diri kita, maka dapat kita lihat
akibatnya pada orang-orang yang mewarnai rambutnya dengan
berbagai macam warna agar menarik perhatian orang
lain, potongan yang aneh-aneh yang juga bermahksud
agar dilihat, dipuji serta lain sebagainya harapan.




Sedangkan aturan Allah
melarang kita mencabut uban serta mewarnainya dengan
warna hitam, agar kita tidak sampai melupakan umur
yang
terus berjalan menuju kematian, yang seharusnya kita
isi dengan segala macam amal kebaikan serta
kebijakan berfikir, bukannya dicabut serta dihitamkan
yang menjadikan kita lupa diri, lupa usia serta
lupa bahwa kematian senantiasa menunggu dengan waktu
yang tidak kita diketahui kedatangannya.




Aturan perlakuan terhadap
rambut ketiak yang harus di cabut dan bukannya di
cukur, mungkin membuat kita berfikir kenapa
harus bersakit-sakit mencabuti rambut ketiak dan bukan
mencukurnya saja lebih cepat dan nyaman, memang yang
nyaman-nyaman ataupun enak-enak itu hasilnya biasanya
kurang baik, ketiak bagi laki-laki yang pada saat
sujud sangat besar kemungkinannya untuk terlihat,
tentunya memerlukan penampilan keindahan tersendiri,
kehalusan kulit ketiak yang di cabut rambutnya sangat
berbeda dengan bila dicukur, belum lagi kelenjar
keringat di ketiak yang bila dicukur akan tetap
memproduksi keringat serta bau yang banyak, akan sangat
berkurang produksinya bila dicabut rambutnya tersebut.




Ditambah lagi bila kita
dengar pendapat ilmuwan dimasa sekarang ini yang telah
menemukan kenyataan bahwa mencukur rambut dagu
ataupun
mencukur rambut ketiak, dapat
menimbulkan resiko kanker yang lebih tinggi dibandingkan
dengan
orang yang memelihara janggut, adapun masalah rambut
ketiak barangkali dapat kita ibaratkan sebagai ilmu
refleksi yang dapat menyehatkan organ-organ dalam
tubuh kita, sehingga lebih rendah lagi kemungkinan
terkena kanker pada organ dalam tubuh kita, Maha suci
Allah yang Maha Tahu.




Rambut kemaluan yang harus
dicukur dan bukannya di cabut, rasanya lebih kepada
kebersihan serta kenyamanan dan perhatian kita terhadap
kemaluan kita, juga sebagai santun serta saling
menghargai bagi yang sudah menikah, dengan
cara mencukur rambut kemaluan, cara tersebut dapat
menjadikan rambut tersebut tumbuh lagi dengan cepat, sehingga
terasa menggangunya rambut yang baru tumbuh tersebut
akan membuat kita lebih intensif dalam
memperhatikan bagian tubuh tersebut.




Pada awalnya memang terasa
aneh bila kita memikirkan aturan perlakuan terhadap
rambut yang menurut akal kita kurang praktis,
dengan
diharuskannya memotong rambut kepala, mencabut rambut
ketiak serta mencukur rambut kemaluan tersebut, memang
Allah Maha Tahu, jauh lebih baik bila kita
mengutamakan taat saja kepada aturan Allah serta
melaksanakannya, daripada kita di ganggu oleh keraguan
yang diumpankan oleh akal kita sendiri, kecuali
memang Allah berkenan memberikan kepada kita
pengetahuannya tentang hal tersebut.




-=*=-



waswas1

Was-was






Was-was serta ragu yang
ditiupkan syaitan kedalam dada kita, merupakan senjata
terampuh syaitan didalam memulai segala tugasnya untuk
menyeret manusia kedalam jurang kenistaan, was-was
merupakan bibit rasa takut yang membuat manusia
mudah
melupakan Allah.







Syaitan paling suka
menghembus dada manusia dengan was-was atau
bibit-bibit ketakutan terhadap hal-hal yang
menjadi
hak mutlak Allah, seperti masalah
jodoh, nyawa dan rizki, sebab hembusan kepada hal-hal
tersebutlah yang paling mudah mengguncangkan hati
manusia.




Manusia menjadi takut mati,
takut tidak mendapatkan jodoh serta takut miskin,
rasa
takut kehilangan yang terus tumbuh
membesar tersebut menimbulkan akibat menumpuk harta
sebanyak-banyaknya serta kikir, mencari orang pintar
untuk mendapatkan ataupun mempertahankan jodoh,
menggunakan segala cara untuk tetap sehat serta bisa
hidup.




Kombinasi ingin mendapatkan
kekayaan dan takut miskin, dapat membuat orang
melakukan keburukan yang sangat hingga kemusyrikan,
dari mulai menghalalkan segala cara mencari harta,
mengambil
hak orang lain bahkan haknya orang yang
terkena bencana pun tega mengambilnya, hingga menjual
jiwa kepada syaitan semodel babi ngepet dan lain
sebagainya.




Menggunakan pelet atau
pengasihan, hingga bermain guna-guna untuk mendapatkan
atau mempertahankan jodoh yang sebenarnya hanya
hak Allah untuk menentukan siapa yang setimbang
sebagai jodohnya.




Ketakutan akan kematian membuat
orang menjadi rela mempelajari ilmu yang tidak jelas
sebagai penjaga dirinya, bahkan mungkin saja menjadikan
syaitan sebagai penjaga diri, hingga juga orang rela
mengeluarkan uang milyaran hanya untuk memperpanjang
hidupnya satu tahun dengan memasang organ tubuh orang
lain yang tidak diketahui darimana didapatkannya,
apakah
memang dari donor organ tubuh yang
meninggal ataukah dari anak-anak kecil yang
diperjual-belikan untuk diambil organ tubuhnya.




Sebenarnya apa yang
dinamakan jodoh, rizki serta umur sebenarnya adalah
cobaan yang sangat besar, namun kebanyakan orang sangatlah
mengejar-ngejarnya.




Semua yang menjadi hak mutlak Allah,
hanya
Allahlah yang langsung
menghitungkannya, berapa rizki yang cocok didapatkan, siapa jodoh
yang cocok serta setimbang, berapa umur yang mampu dijalani
seseorang, tanpa ada makhluk apapun yang dapat
melakukannya selain Allah saja.




Sebagaimana Allah yang
menghitungkan untuk kita, maka seharusnya kitalah yang
berusaha menjadikan diri kita menjadi sesuai
dengan apa yang kita inginkan sehingga ketika Allah
menghitungnya hasilnya menjadi sesuai dengan apa
yang kita harapkan, jika kita membentuk diri kita
menjadi orang yang soleh, tentunya Allah akan
memberikan jodoh yang soleh atau solehah pula
ketika
menghitungnya.




Oleh karena itu, jika kita
mengejar sesuatu yang menjadi hak mutlak Allah
tanpa
kita berusaha untuk menyesuaikan diri
kita dengan apa yang diharapkan saat
Allah menghitungnya, kita akan menjadi sasaran yang mudah sekali
untuk
dihembus oleh syaitan dengan segala
was-was serta rasa takut.




-=*=-



hadist

Hadist






Hadist yang menjadi
petunjuk pelaksanaan al Qur'an sehingga menjadi lebih
manusiawi untuk dapat dilaksanakan oleh seluruh ummat
manusia.





Al Qur'an yang isinya begitu lugas
serta
tegas memang sangat sulit untuk
dilaksanakan oleh kita, dengan adanya hadist
sebagai
petunjuk pelaksanaannya tentu saja menjadi jauh
lebih
memudahkan bagi kita untuk melaksanakan segala
perintah maupun larangan Allah yang sudah dicontohkan
pelaksanaannya oleh utusanNya yaitu Rasulullah SAW .




Sebagaimana kalimat syahadat yang tidak
akan
dapat kita pisahkan antara Allah dengan utusannya,
begitu pula seharusnya kita berpegang selalu kepada al
Qur'an serta hadistnya, tanpa dapat kita memisahkan
nya.




Dalam hal mengenal Allah
serta akhiratpun tentunya kita tidak dapat
mengetahuinya bila tidak melalui utusanNya, begitu
pula
dengan ilmunya, kita akan sulit bahkan
mungkin tidak akan dapat mempelajari apalagi
melaksanakan apa yang ada didalam al Qur'an yang lebih cenderung
kepada
ilmu akhirati, tanpa bantuan petunjuk
ilmu yang lebih manusiawi dari hadist.




Memang ada orang-orang tertentu
yang tidak lagi mau menganggap hadist serta sunnah,
disebabkan merasa lebih nyaman dengan al Qur'an yang
terjamin kesuciannya, yang dianggapnya langsung
datang dari Allah tanpa melalui Utusan.




Sebenarnya orang yang
meninggalkan hadist serta sunnah, adalah orang yang
merusak dua kalimat syahadatnya menjadi tinggal satu
kalimat, alias kehilangan syahadatnya yang
ia sobek, alias tentu saja sudah keluar dari islam
disebabkan sudah tidak memiliki lagi syahadatnya.




Selama kita masih manusia
tentunya kita tidak akan pernah dapat melepaskan
hadist serta sunnahnya, terkecuali mungkin kita sudah
bukan manusia lagi.




Seandainya kita merasa sudah
bukan manusia lagi, lalu jadi apakah kita?, sebab
tidak
ada ciptaan Allah yang dapat melebihi
manusia, manusia dapat lebih bagus dari malaikat,
tetapi
dapat juga menjadi lebih buruk dari
iblis, yang pasti tentu saja bisa lebih.




Tanpa hadist kita tidak akan
dapat menghayati al Qur'an dengan benar,
sedangkan
tanpa al Qur'an kita bisa menjadi
kebablasan oleh hadist, dikarenakan begitu
manusiawinya.




Oleh karena itu janganlah
kita memisahkan keduanya, agar kita bisa mendapatkan
ilmu yang bermanfaat sebanyak mungkin, dengan
resiko kecelakaan ilmu yang sesedikit mungkin.




-=*=-